Sabtu, 02 Juni 2012

An essay

Nggak sengaja nemu tulisan ini. Sebuah esai yang dulu aku bikin pas kelas 1 SMA dalam rangka seleksi jurnalis Det-Con 2k9 di sekolah. Esai tentang seorang guru di Smasa yang dulunya adalah favoritnya anak-anak pcp09 =))

BU INTIEN, GURU MATEMATIKA YANG INGIN JADI PERAWAT

“Saya bukan wonder woman. Saya punya banyak plus minus. Saya hanya ingin bisa melayani kalian.”

Mrs. Intien Faluen Nadhifah, S.Pd, M.Pd is one of senior teacher in Senior High School 1 Surabaya. She teaches mathematic lesson. Even she just 43 years old, she is officiating as vice headmaster of curriculum now. But who knows that Mrs. Intien didn’t want to being a teacher when she was in elementary school. She wants to be a nurse. Why?
“Jujur, saya tidak pernah terpikir akan menjadi guru matematika seperti sekarang. Cita-cita saya saat kecil adalah menjadi seorang perawat. Saya melihat perawat adalah pekerjaan yang sangat mulia, bahkan lebih mulia dari seorang dokter sekalipun.” tutur Bu Intien mengenai cita-cita masa kecilnya. Namun sayang ayahnya tidak mengijinkan beliau menjadi seorang perawat. Setelah lulus dari Sepenmaru (sekarang SNMPTN), beliau bingung memilih jurusan yang tepat. Beliau ingin mengambil teknik kimia di ITS, namun sang ayah tidak memperbolehkan. “Kata ayah saya, saya tidak cocok mengambil jurusan itu. Apalagi saya punya alergi pada zat-zat kimia. Padahal saya sangat mencintai pelajaran kimia.” ujar Bu Intien.

Akhirnya melalui nasehat dan dukungan keluarganya, Bu Intien mantap melanjutkan pendidikan di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) jurusan matematika. Mengapa jurusan matematika? “Saya ambil jurusan matematika karena matematika itu mudah, nggak banyak hafalan. Kalau sudah lulus kan jadi guru, waktu kerja nanti banyak liburnya.” kata Bu Intien sambil tertawa.

Bu Intien mengajar matematika di SMASA sejak tahun 1988. Tapi beliau baru resmi diangkat sebagai PNS pada tanggal 1 Januari 1989. “Berarti saya diangkat menjadi PNS ketika usia saya 22 tahun. Alhamdulillah sekali saya bisa menjadi PNS pada usia yang masih muda. Suatu kebanggaan tersendiri untuk saya” kata ibu dari Desta Miftachul Amin dan Okta Athour Rizqi ini.

Ketika beliau ditanya seberapa susah mengajar anak-anak SMASA, beliau menjawab, ”Pada dasarnya tidak susah kok. Hanya saja sejak diterapkan sistem fullday, semangat anak-anak untuk belajar matematika agak menurun. Berbeda sekali ketika belum fullday. Saya juga nggak tahu, anak-anak itu kecapekan mungkin ya?” Ya, memang sejak tahun pelajaran 2008-2009 yang lalu, pemerintah menghimbau kepada sekolah-sekolah di Surabaya untuk menerapkan sistem fullday. Sebagian besar siswa jadi kehilangan banyak waktunya untuk belajar di rumah karena terlalu sibuk di sekolah.

Matematika adalah salah satu pelajaran yang paling sering menjadi momok bagi para siswa. Ada siswa yang menganggap matematika itu mudah, sementara sebagian lainnya menganggap matematika itu sulit. Tak jarang siswa mendapatkan nilai di bawah standart dalam mata pelajaran ini dan harus mengikuti remidi. Melihat fenomena tersebut, Bu Intien hanya tertawa. “Sebenarnya saya selama ini bukan bermaksud untuk membuat anak-anak remidi. Saya hanya ingin menguji coba kemampuan anak-anak. Sebagai Wakasek Kurikulum kan saya tahu nilai UNAS matematika kalian banyak yang dapat 9. Melalui ulangan, saya mencoba untuk memberikan soal yang lebih mantap. Eh lha kok ternyata jelek-jelek nilainya.” ujar beliau sambil menggelengkan kepalanya. Melihat hasil ulangan pertama kurang baik, Bu Intien pun membuat ulangan ulang yang standar soalnya diturunkan. Ternyata banyak yang mendapatkan nilai 80-100. “Kalau seperti ini, berarti anak-anak yang kurang belajar. Ulangan pertama itu seharusnya bisa mereka kerjakan dengan baik kalau mereka mau belajar di rumah. Sementara untuk ulangan yang kedua, itu memang soal-soal yang sudah pernah saya bahas di kelas.” tutur Bu Intien panjang.

Selain mengajar matematika, Bu Intien juga menjabat sebagai Wakasek Kurikulum. Tugasnya adalah membuat jadwal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), memonitoring guru, dan lain-lain. “Saya punya buku monitoring. Isinya nama guru yang mengajar di SMASA  Di dalam sini banyak sekali catatan tentang kedisiplinan guru dalam berpakaian, mengajar, dan sebagainya. Tapi ini rahasia dan hanya saya yang mengetahuinya.” kata Bu Intien. Sebagai Wakasek Kurikulum, Bu Intien harus bekerja ekstra keras untuk membuat jadwal KBM yang efektif. “Kerja saya semuanya nggak pernah jauh dari kerja otak. Kadang saya sampai pusing begitu. Tapi bagaimana lagi? Diibaratkan, jantung seluruh KBM di SMASA ada pada saya. Jadi saya harus bisa membuat jadwal yang efektif untuk anak-anak.”

Kembali pada matematika, bagaimana cara beliau untuk membuat siswa senang dengan pelajaran matematika? “Nah, itulah yang belum saya temukan sampai sekarang.” ujar Bu Intien. “Saya melihat anak-anak senang dengan pelajaran saya. Cuma ya itu tadi, semangatnya kurang. Selain itu penyakitnya anak-anak adalah tidak mau mengulang lagi di rumah.” Beliau berusaha untuk memberikan materi ini dengan sebaik mungkin untuk siswa SMASA. “Saya bukan wonder woman. Saya punya banyak plus minus. Saya hanya ingin bisa melayani kalian.” tambah beliau.

Ibu Intien mempunyai pesan-pesan khusus untuk siswa SMASA. “Karena sekarang pulangnya sore, fullday, tolong waktu saat berada di sekolah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Gunakan dengan diskusi bersama teman-temanmu agar bisa saling sharing pendapat. Selain itu kalian bisa mengingat kembali pelajaran yang telah disampaikan oleh Bapak dan Ibu guru kalian.” pesan Bu Intien.

4 komentar:

  1. km dicurhatin shin?haha

    BalasHapus
  2. iya mas haha ini aku wawancara sejam lebih lho ._.

    BalasHapus
  3. .....seorang guru di Smasa yang dulunya adalah favoritnya anak-anak pcp09 =)).....
    emboh kok kudu ngguyu. becanda :p

    BalasHapus
  4. bwahaha emang kan dulu kita..... :))

    BalasHapus