Rabu, 18 Januari 2012

Happy birthday Papa & Kakak

HAPPY BIRTHDAY TO YOU! 

Papa (18 Januari 1958)

Mas Oni (18 Januari 1980)

For both of you, Papa dan Kakak
Selamat ulang tahun yaaaa. Selamat ulang tahun ke 54 buat Papa, dan selamat ulang tahun ke 32 buat kakakku tercinta, Mas Oni. Semoga kalian berdua diberikan umur yang panjang, kesehatan, sukses kariernya, dan selalu diridhoi di setiap jalan hidupnya. Gabisa ngungkapin pake kata-kata, tapi yang jelas aku suuuuuayang pol sama kalian berdua.

Peluk ciuuuuuuuuum,

xoxoxo
Shinta

Kamis, 29 Desember 2011

Have you found your passion?


Nugie - Lentera Jiwa

Aku inget video ini dulu ditayangin sama mas-mas psikolog dari Unair waktu aku masih awal-awal masuk pcpt. Waktu itu kelas kami dikasih semacam bimbingan motivasi gitu, mungkin karena guru-guru ngliatnya kami belajarnya masih keteteran dan belum ada semangat sama sekali buat mengejar cita-cita.
Setelah nonton video ini, kami langsung kayak 'terbangun' gitu dari segala kegelapan duniawi masa SMA. Kami sadar, *passion itu penting. Kita nggak bisa sembarangan milih suatu jurusan di kuliah nanti hanya karena jurusan itu eksis, keren, dan prestige nya tinggi. Sekali lagi, enggak. Ini berhubungan dengan masa depan. Kenapa kita harus memaksakan untuk menjadi sesuatu kalo sesuatu itu sebenernya bukan passion kita? Kerjakan saja apa yang kamu suka. Tekuni apa yang kamu mampu. Buatlah kuliah itu menyenangkan, sehingga nanti pas udah lulus kita bisa enjoy dalam bekerja.
Buat temen-temenku yang lagi galau milih jurusan buat kuliah, tentuin lagi passion kalian. Pikirin mateng-mateng. Insya Allah, kalo kalian udah nemuin passion masing-masing, jalan kalian menuju kesana bakal dimudahin kok.
Semangat ya!

*passion: kegemaran, kesukaan, minat





PRIDE!
cc: Senior-senior CE ITS dan pasukan cowok CE 2011

Rabu, 28 Desember 2011

Duet

Suatu hari, mas Leo, kakak kelasku SMA, bilang ke aku."Shin, bukaen blogku yoo". Tanpa curiga, aku buka blognya. Ada satu postingan baru gitu, fresh, dan sukses bikin aku ngakak kepingkel bacanya =))

"Saya bikin kesalahan lagi sepertinya,haha. Hidup gak pernah nggenah ya kayak saya ini cuman bisa memalukan saja. Kemarin pertama kalinya saya nyanyi buat band, ngisi acara yang dihadiri lebih dari 100 pasang mata. Kan gak biasa aja nyanyi sendiri gitu tapi aku ya nekat aja. Dan hasilnya buruk. Ini gara- gara saya bingung sama micnya. Harusnya pakai mic yang bukan wireles soalnya micnya cacat gak nyatu sama musik. Jadi ya suaranya kejar - kejaran sama musik #mentolo. Tapi yang aku mangkel, dari semua yang tampil saat itu kenapa waktu saya aja pake mic yang wireles dan yang lain nggak? kenapa ha?
Penyesalan sih ada, tapi ya maklum ini pertama kalinya nyanyi sendiri di depan umum kan biasanya kroyokan. Jadi tau gimana rasanya jadi si Shinta waktu dia nyanyi pelan - pelan saja :)). Itu gak gampang!!!!! Maju gak pake nyanyi aja udah deg deg ser apalagi ini pake nyanyi." 
Reblogged from here

Aku ngakak kepingkel gara-gara jadi inget pas dulu kelas 1 SMA aku pernah nyanyi di Smasa dan itu adalah salah satu momen ter-awkward yang pernah terjadi dalam hidupku (nih ada ceritanya disini). Dan Mas Leo adalah salah satu saksi dari kejadian mengenaskan yang terjadi di lapangan smasa hampir dua tahun yang lalu itu. 
Nah, setelah aku baca postingannya Mas Leo dan sukses ngetawain dia, kami berdua kemudian menggalau. Mungkin ngrasa memiliki persamaan nasib kali ya. Sampe-sampe kami berdua, saking galaunya, berambisi tinggi untuk berduet dalam event-event besar smasa seperti reuni akbar, ulang tahun smasa, atau bahkan pas ulang tahun Mam Wetty(?). Entahlah. Tapi yang jelas, kami berdua masih menunggu saat yang pas buat berduet. Tunggu kami, dunia :)))))

“Life is not about waiting the storm to pass. It is about dancing in the rain.”
Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi pas hujan selesai, dan merenung sendiri dari balik kacamata yang berembun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Aku suka hujan. Aku suka menyetir mobil di bawah hujan sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang dipenuhi oleh titik-titik air. Lalu aku menghapusnya dengan wiper, yang tentu saja percuma, hanya untuk melihatnya basah kembali: setitik demi setitik demi setitik demi setitik… hingga aku menghapusnya lagi. Dan ulangi. Lalu aku menyetel radio, bernyanyi sumbang, yang tersamarkan oleh bunyi kaca yang ditempa air. Aku suka tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku suka dibungkam tanpa sengaja.
Aku suka hujan. Terutama aku suka bau air yang bercampur dengan tanah, bau lumpur samar itu. Aku selalu menciumnya dengan brutal, menghirup dalam-dalam dan menahan napas, supaya tidak terlupakan oleh bau yang lain. Aku ingat, sewaktu masih kecil, aku selalu suka menari di bawah hujan, teriak bersama teman-teman dan mengecap rasa asin yang mampir di bibir. Dan ketika keesokannya harinya meriang? Aku gak peduli.
Tapi aku selalu takut dengan badai. Dengan kemampuannya untuk merusak, menghancurkan yang telah ada. Menyapu bersih apa yang pernah aku bangun. Menelan semuanya dalam satu kali jentikan jari, atau kurang. Badai dengan angin kencang, petir nyaring, dan kilatan yang menyilaukan mata. Badai bisa membuat orang hilang. Badai bisa membuat orang bimbang. Badai bisa, menyesatkan.
Dan ketika badai semacam itu datang,
yang diperlukan hanyalah keberanian untuk menari di bawah hujan.
Hei, kamu. Pegang tanganku.
Kita menari bersama. Ya?