Tampilkan postingan dengan label DANGDUT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DANGDUT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2011


“Life is not about waiting the storm to pass. It is about dancing in the rain.”
Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi pas hujan selesai, dan merenung sendiri dari balik kacamata yang berembun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Aku suka hujan. Aku suka menyetir mobil di bawah hujan sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang dipenuhi oleh titik-titik air. Lalu aku menghapusnya dengan wiper, yang tentu saja percuma, hanya untuk melihatnya basah kembali: setitik demi setitik demi setitik demi setitik… hingga aku menghapusnya lagi. Dan ulangi. Lalu aku menyetel radio, bernyanyi sumbang, yang tersamarkan oleh bunyi kaca yang ditempa air. Aku suka tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku suka dibungkam tanpa sengaja.
Aku suka hujan. Terutama aku suka bau air yang bercampur dengan tanah, bau lumpur samar itu. Aku selalu menciumnya dengan brutal, menghirup dalam-dalam dan menahan napas, supaya tidak terlupakan oleh bau yang lain. Aku ingat, sewaktu masih kecil, aku selalu suka menari di bawah hujan, teriak bersama teman-teman dan mengecap rasa asin yang mampir di bibir. Dan ketika keesokannya harinya meriang? Aku gak peduli.
Tapi aku selalu takut dengan badai. Dengan kemampuannya untuk merusak, menghancurkan yang telah ada. Menyapu bersih apa yang pernah aku bangun. Menelan semuanya dalam satu kali jentikan jari, atau kurang. Badai dengan angin kencang, petir nyaring, dan kilatan yang menyilaukan mata. Badai bisa membuat orang hilang. Badai bisa membuat orang bimbang. Badai bisa, menyesatkan.
Dan ketika badai semacam itu datang,
yang diperlukan hanyalah keberanian untuk menari di bawah hujan.
Hei, kamu. Pegang tanganku.
Kita menari bersama. Ya?

Senin, 02 Mei 2011

Mario Maurer - Pimchanok Luevisetpaibool


They're great couple, right? I wish they would be the real couple!!!
Crazy Little Thing Called Love - 2010

from page 230-231

"Gue sayang lo."
Pernyataan barusan jujur, dari hati. Lama, gue menganggap rasa suka untuknya hanya sekedar naksir cewek cakep kelas sebelah. Gue kira, perasaan gue untuk dia sedangkal jumlah percakapan yang kami miliki bersama. Gue kira, gue hanya sebatas suka melihat senyumnya, wajahnya yang imut, sikapnya yang ramah.
Namun, hari ini gue sadar, perasaan gue untuk dia ternyata lebih dari semua itu. Lebih dari yang gue sangka, gue ingin melindungi dia. Gue sayang dia-apa pun yang telah terjadi. Dan kalau gue nggak ngomong sekarang, selamanya gue akan menyesal.
Gia menatap gue. Sedih. "Maaf ya, Erik. Gue nggak bisa terima perasaan lo."
"Gue nggak berharap perasaan gue diterima."
Dia terhenyak, bingung.
"Gue hanya ingin lo bahagia....dengan semua pilihan lo. Apa pun kondisinya."
Cinta itu nggak memiliki, Gi. Begitu pula dengan gue; walaupun sekarang rasanya sakit.

(Remember When: ketika kau dan aku jatuh cinta - Winna Efendi)

Minggu, 13 Maret 2011

the confession

Girl: I know when you're lying, but...my love for you is greater than my disappointment
Boy: I often lie, but...my love for you never lies

Kamis, 09 Desember 2010

"ketika aku merasa sedih, aku punya sebuah cara jitu untuk melupakannya."

"apa itu?"

"aku akan memikirkan hal-hal yang aku suka."

"kalau boleh tau, apa saja hal itu?"

"cuma satu kok."

"....."

"KAU."

#random

Rabu, 06 Oktober 2010

Letter left behind.....

Dear Ronnie,
I miss the hours we spent together at the piano. I miss being your teacher.
I know you see me as having left you, but when your mother and I split up, I was in a lot of pain.
I just needed to come home. I regret moving away from you and Jonah more than anything. I hope you'll forgive me.
Your mom tells me you completely failed your SATs, but I know how smart you have to be to get every single question wrong.
Congratulations, Ronnie.
I've told you before that none of what happened between your mother and me had anything to do with you or Jonah.
Love is fragile, Ronnie.
And we're not always its best caretakers. We just muddle through and do the best we can. And hope this fragile thing survives, against all odds.

based on movie: The Last Song

Sabtu, 04 September 2010

after that

Awal Agustus

Ada satu hal yang aku tau setelah kau pergi.
Aku mulai sadar bahwa benar, memang ada cowok yang nggak berperasaan sepertimu. Sakit memang waktu pertama kali kau bilang,"kita putus." Tapi sekarang aku malah sangat sangat bersyukur, aku dijauhkan dari orang yang tidak baik untukku -ya, setidaknya setelah aku memergoki kebusukanmu-. Ah, Tuhan ternyata masih sayang aku.
Hari-hariku berbeda setelah kau pergi. Lebih menyenangkan? Tentu saja. Aku menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatku. Itu jauh lebih menyenangkan ketimbang aku harus membuang waktu untuk menangisimu. Iyuh, aku nggak mau ya air mataku diobral untuk orang macam kamu. Bersama mereka, aku bisa menumpahkan semua isi hatiku. Aku yakin, dan tentu saja dengan saran mereka, suatu saat aku akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari kamu.
Bye bye ex. Nikmati hidupmu sekarang :))

Kamis, 15 Juli 2010

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

—

*) was copied fromRaditya Dika's blog